Malam JADI TOTO DAFTAR itu hujan turun begitu deras hingga suara tetesannya menutupi hampir seluruh bunyi di sekitar Desa Wanasari. Jalan-jalan kecil berubah menjadi becek, sementara angin dingin meniup dedaunan hingga bergesekan satu sama lain, menciptakan suara yang terdengar seperti bisikan dari kejauhan.
Di ujung desa berdiri sebuah toko barang antik bernama Galeri Kenangan. Bangunannya sudah tua, cat dindingnya mengelupas, dan jendela kayunya tampak rapuh dimakan usia. Pemiliknya adalah seorang pria lanjut usia bernama Pak Rahmat yang dikenal ramah, tetapi selalu memiliki satu aturan aneh.
Jangan pernah membeli boneka yang berada di rak paling atas.
Tak seorang pun tahu alasannya.
Sebagian mengira boneka itu terlalu mahal.
Sebagian lagi menganggap Pak Rahmat hanya ingin menyimpannya sebagai koleksi pribadi.
Namun warga JADITOTO GACOR yang sudah lama tinggal di desa memiliki cerita berbeda.
Boneka itu memiliki mata merah.
Dan siapa pun yang membawanya pulang, tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi.
Arga, seorang fotografer muda yang gemar mengoleksi barang-barang antik, datang ke toko tersebut saat sedang berburu properti untuk sesi pemotretan bertema klasik.
Matanya langsung tertuju pada sebuah boneka perempuan bergaun merah kusam.
Boneka itu tampak sangat indah.
Rambut hitamnya disisir rapi.
Kulit porselennya LINK JADITOTO hampir sempurna.
Yang paling mencolok adalah kedua matanya.
Merah menyala seperti batu rubi.
Pak, saya mau beli boneka itu.
Pak Rahmat yang sedang membersihkan meja langsung menghentikan gerakannya.
Warna mata merah?
Iya.
Pak Rahmat menggeleng pelan.
Itu bukan untuk dijual.
Arga tertawa kecil.
Kenapa? Langka ya?
Pak Rahmat menatapnya SITUS JADITOTO cukup lama sebelum berkata pelan.
Boneka itu tidak suka berpindah pemilik.
Arga menganggapnya hanya strategi agar harga boneka naik.
Ia terus membujuk.
Setelah hampir satu jam, Pak Rahmat akhirnya menyerah.
Kalau memang kamu bersikeras, bawalah.
Tapi ingat satu hal.
Apa?
Kalau suatu hari boneka itu berpindah tempat sendiri...
Jangan pernah memanggil namanya.
Arga mengernyit.
Namanya siapa?
Pak Rahmat tidak menjawab.
Boneka JADITOTO 4D itu kini berada di apartemen Arga.
Ia meletakkannya di rak ruang tamu.
Malam pertama berjalan biasa.
Tidak ada kejadian aneh.
Esok paginya, Arga hendak berangkat bekerja.
Namun ia terdiam.
Boneka yang semalam berada di rak kini duduk di kursi dekat jendela.
Aneh...
Ia yakin tidak memindahkannya.
Arga menganggap dirinya lupa.
Boneka dikembalikan ke rak.
Malam kedua.
Arga pulang lebih larut.
Begitu membuka pintu apartemen...
Boneka JADI TOTO SLOT itu sudah berada di lorong.
Menghadap pintu.
Seolah menyambut kepulangannya.
Jantung Arga berdetak lebih cepat.
Ia memeriksa CCTV apartemen.
Tidak ada seorang pun masuk.
Rekaman menunjukkan boneka tetap berada di rak.
Lalu tepat pukul 02.17 dini hari...
Layar CCTV mengalami gangguan selama lima detik.
Setelah gambar kembali normal...
Boneka sudah berada di lorong.
Arga mulai merasa tidak nyaman.
Ia memutuskan memasang kamera JADI TOTO LOGIN tambahan di dalam apartemen.
Empat kamera dipasang menghadap setiap sudut ruangan.
Malam itu Arga sengaja begadang.
Pukul satu.
Tidak terjadi apa-apa.
Pukul dua.
Boneka masih diam.
Pukul tiga kurang lima menit.
Lampu ruang tamu berkedip.
Lalu mati selama beberapa detik.
Saat listrik kembali menyala...
Boneka telah berpindah.
Kini duduk di sofa tepat menghadap Arga.
Padahal sepanjang waktu Arga tidak mengalihkan pandangan.
Keesokan paginya ia memutar rekaman kamera.
Semua kamera merekam dengan normal.
Namun tepat pukul 02.55...
Setiap layar berubah dipenuhi garis-garis statis.
Gangguan berlangsung selama empat detik.
Ketika gambar kembali...
Boneka sudah berpindah tempat.
Seolah ia bergerak saat kamera tidak dapat merekam.
Gangguan tidak berhenti di situ.
Arga mulai mendengar langkah kaki kecil setiap malam.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara itu berasal dari lorong apartemen.
Ketika pintu dibuka...
Tidak ada siapa pun.
Namun boneka selalu berubah posisi.
Kadang menghadap pintu.
Kadang menghadap kamar tidur.
Kadang berdiri.
Ya...
Berdiri.
Seminggu berlalu.
Tubuh Arga mulai kelelahan.
Ia sulit tidur.
Setiap kali memejamkan mata...
Ia bermimpi berada di sebuah rumah tua.
Di sudut rumah selalu ada boneka bermata merah itu.
Dan di belakang boneka berdiri seorang anak perempuan yang wajahnya tidak pernah terlihat jelas.
Anak itu selalu berkata dengan suara pelan.
Jangan tinggalkan aku...
Suatu malam, Arga terbangun karena mendengar suara tangisan.
Bukan suara orang dewasa.
Melainkan suara anak kecil.
Tangisan itu berasal dari ruang tamu.
Ia berjalan perlahan.
Lampu mati.
Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Boneka berdiri tepat di tengah ruangan.
Matanya merah terang.
Lebih terang dari sebelumnya.
Kemudian...
Boneka mengangkat tangan kanannya.
Perlahan.
Seolah menunjuk ke arah kamar.
Arga menoleh.
Pintu kamar yang tadi tertutup kini terbuka sendiri.
Di dalam kamar terdengar suara bisikan.
Kembalikan...
Arga mendekat.
Suara itu semakin jelas.
Kembalikan aku...
Tiba-tiba pintu tertutup keras.
Brak!
Arga berusaha membukanya.
Sulit.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka sendiri.
Boneka sudah berdiri di belakangnya.
Keesokan hari Arga kembali menemui Pak Rahmat.
Begitu melihat boneka berada di dalam tas Arga, wajah pria tua itu langsung pucat.
Kamu membawanya lagi.
Pak... apa sebenarnya boneka ini?
Pak Rahmat menarik napas panjang.
Dulu boneka itu milik seorang anak perempuan bernama Lestari.
Lestari?
Ia meninggal dalam kebakaran rumah lebih dari empat puluh tahun lalu.
Boneka itu satu-satunya benda yang selamat.
Lalu?
Sejak saat itu siapa pun yang memilikinya selalu merasa diikuti.
Diikuti siapa?
Pak Rahmat memandang mata boneka.
Bukan bonekanya.
Tapi anak yang tidak pernah rela berpisah dengannya.
Arga memutuskan mencari tahu sejarah keluarga Lestari.
Ia mendatangi perpustakaan daerah.
Setelah berjam-jam mencari arsip lama, akhirnya ia menemukan berita koran tahun 1981.
Judulnya berbunyi:
Kebakaran Menewaskan Seorang Anak Perempuan.
Dalam artikel disebutkan bahwa Lestari meninggal setelah kembali masuk ke rumah demi mengambil boneka kesayangannya.
Namun ada satu hal yang menarik.
Jenazah Lestari ditemukan.
Bonekanya tidak pernah ditemukan.
Padahal seluruh rumah telah diperiksa.
Malam berikutnya mimpi Arga berubah.
Kini ia melihat wajah Lestari dengan jelas.
Seorang anak berusia delapan tahun.
Ia memeluk boneka itu sambil menangis.
Di belakangnya rumah terbakar hebat.
Lestari menatap Arga.
Tolong antarkan aku pulang.
Arga akhirnya mengetahui lokasi bekas rumah keluarga Lestari.
Tempat itu kini menjadi lahan kosong.
Hanya tersisa pondasi yang dipenuhi rumput liar.
Ia membawa boneka ke sana.
Begitu matahari mulai terbenam...
Angin bertiup sangat kencang.
Langit mendadak mendung.
Boneka yang dibawanya terasa semakin berat.
Seolah ada seseorang yang memeganginya.
Di tengah pondasi tua terdapat sebuah pohon besar.
Saat Arga mendekat...
Boneka tiba-tiba terjatuh sendiri.
Matanya menyala merah terang.
Kemudian terdengar suara anak kecil.
Ayah...
Tak lama kemudian muncul suara perempuan.
Lestari...
Arga melihat bayangan dua sosok berdiri di antara pepohonan.
Salah satunya adalah anak perempuan yang sering muncul dalam mimpinya.
Tanpa sadar Arga berkata,
Kalau memang ini rumahmu... pulanglah.
Angin langsung berhenti.
Suasana mendadak sunyi.
Mata boneka perlahan berubah.
Merahnya memudar.
Menjadi cokelat tua seperti mata boneka biasa.
Arga mengira semuanya telah selesai.
Namun malam itu, saat tiba di apartemen...
Boneka sudah berada di atas meja.
Padahal ia meninggalkannya di bekas rumah Lestari.
Tubuhnya membeku.
Di samping boneka terdapat secarik kertas tua.
Tulisan tangannya tampak seperti dibuat anak kecil.
Terima kasih telah mengantarkanku.
Di bawah tulisan itu terdapat gambar sederhana berupa rumah, matahari, dan tiga orang yang saling bergandengan tangan.
Arga tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak membawa boneka itu pulang, ia tidak lagi merasakan hawa dingin yang selalu menyelimuti apartemennya.
Beberapa bulan kemudian, Arga memutuskan menyumbangkan boneka tersebut ke sebuah museum sejarah lokal yang memiliki koleksi benda-benda peninggalan masa lalu. Ia menyertakan catatan mengenai asal-usul boneka dan kisah yang ditemukannya selama penyelidikan. Anehnya, sejak boneka dipajang di ruang koleksi, tidak pernah lagi terdengar cerita tentang gangguan aneh atau penampakan.
Namun seorang petugas museum pernah bercerita bahwa setiap pagi, sebelum museum dibuka, boneka itu selalu ditemukan menghadap ke arah jendela timur, seolah sedang menunggu matahari terbit. Mata boneka yang dahulu merah menyala kini tampak lembut, hampir keemasan ketika terkena cahaya pagi.
Arga sesekali datang berkunjung. Setiap kali berdiri di depan etalase kaca, ia merasa suasana di sekitarnya begitu damai. Tidak ada lagi mimpi buruk, tidak ada lagi langkah kaki kecil di tengah malam, dan tidak ada lagi bisikan yang membuat bulu kuduk merinding.
Ia percaya bahwa yang selama ini mengikuti dirinya bukanlah boneka itu sendiri, melainkan sebuah janji yang belum sempat dipenuhi. Setelah kisah Lestari menemukan akhirnya, boneka itu tidak lagi menjadi simbol teror, melainkan pengingat bahwa kenangan dan kasih sayang yang tertinggal dapat bertahan sangat lama hingga akhirnya seseorang bersedia mendengarkan dan membantu mengantarkan pulang.